Follow Us @literasi_smkn23jkt

Kamis, 26 Mei 2016

Mengikhlaskan dalam film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”



Disusun oleh : Lailatul Jannah



Orientasi
Film tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini merupakan fil roman dari novel karya sastrawan terkenal Haji Abdul Malik Karim Abdullah atau yang sering disebut dengan nama Buya Hamka yang diangkat ke layar lebar dan disutradai oleh Sunil Soraya dan produsernya adalah Ram Soraya. Fil ini dirilis pada tanggal 19 Desember 2013. Film ini dibintangi oleh Aktor dan Aktris Indonesia, yakni Herjunot Ali sebagai Zainuddin, Pevita Pearce sebagai Hayati, Reza Rahardian sebagai Aziz, serta yang lainnya. Fil ini dirilis dengan biaya produksi yang tinggi karena dibuat dengan suasana cerita seperti pada tahun 1930-an. Dalam film ini kita disuguhkan rangkaian kata-kata indah dari Sastrawan Buya Hamka yang bisa kita nikmati melalui karakter Zainuddin dan Hayati. Fil ini mengisahkan tentang permasalahan adat dan cinta yang didominasi oleh latar belakang Minangkabau.

Tafsiran 1
Kisah ini berawal pada tahun 1930, yakni keinginan yang kuat seorang pemuda Makassar bernama Zainuddin (Herjunot Ali) untuk mengetahui kampung halaman ayahnya di Batipuh, Padang Panjang untuk belajar ilmu agama. Diantara keindahan ranah negeri Minangkabau ia bertemu dengan seorang gadis Minang yang merupakan keturunan bangsawan bernama Hayati (Pevita Perace), gadis yang berparas cantik jeliya, bunga dipersukuannya. Zainuddin yang memendam perasaannya pada Hayati seketika menjadi pujangga dengan memberikan kata-kata yang mampu mengambil hati wanita yang memiliki kecantikan alami tersebut melalu rangkaian kata dan kalimat indah yang ia karang sendiri. Kedua muda-mudi ini pun jatuh cinta. Namun kedekatan mereka tersebar luas dan menjadi fitnah diantara penduduk kampung tersebut, lalu Kepala Suku Batipuh memaksa Zainuddin untuk pergi dari kampung itu segera agar tak ada kelanjutan hubungan antara Zainuddin dan Hayati. Hal ini dikarenakan Zainuddin hanya seorang melarat tak berbangsa, sementara Hayati perempuan Minang keturunan Bangsawan. Zainuddin dengan terpaksa meninggalkan kampung itu. Sebelum ia pergi, Hayati menemuinya dan memberikan harapan serta janji agar menjaga cinta mereka dihadapan Tuhan walaupun jarak terbentang diantara mereka tepat disebuah danau tempat Zainuddin biasa menulis. Sungguhpun terbentang jarak, hubungan mereka tetap berlanjut. Surat cinta Batipun-Padang Panjang menjadi bukti kesetiaan mereka.

 Tafsiran 2
Suatu hari, Hayati datang ke Padang Panjang, ia menginap dirumah sahabatnya Khadijah. Zainuddin tentu saja diberi tahu perihal maksud Hayati. Satu peluang untuk melepas rasa rindu yang amat sangat diantara mereka. Namun, semua itu tinggal harapan. Hayati bertemu dengan Aziz (Reza Rahardian) kakak Khadijah yang tertarik dan terpikat pada kecantikan Hayati. Sekembalinya Hayati ke Batipuh, diterima olehnya surat lamaran dari Zainuddin dan Aziz. Mengingat keadaan keluarga Aziz dan asal usulnya yang jelas, maka diputuskan lamaran Aziz yang diterima. Sementara lamaran Zainuddin ditolak. Hayati juga setuju pada lamaran tersebut dan menyerahkan semua jawabannya pada petuah adat. Hayati mengkhianati janjinya, ia menikah dengan Aziz. Zainuddin ditolak lamarannya menjadi patah hati karena harapannya dihancurkan oleh Hayati yang mengaku akan selalu setia menjadi kekasih setianya. Terlebih ketika ia menerima surat dari Hayati yang menolaknya karena mereka berdua sama-sama miskin. Membaca pernyataan itu membuat hati Zainuddin sakit dan ia jatuh sakit setelahnya.

Tafsiran 3
Zainuddin memutuskan untuk berjuang bangkit melawan keterpurukan cintanya, terlebih ketika ia diberi semangat oleh sahabatnya Bang Muluk (Randi Nidji). Zainuddin berusaha sekuat tenaga untuk membuka lembaran baru. Ia akhirnya memutuskan untuk bangkit dan merantau ke Batavia bersama Muluk sahabatnya dengan tujuan melupakan Hayati dan mencari peluang hidup disana. Disana, Zainuddin memulai kariernya sebagai penulis dan karyanya diterima oleh khalayak ramai. Akhirnya Zainuddin ditawari oleh seorang penerbit surat kabar untuk mengelola salah satu perusahaan surat kabarnya yang berada di Surabaya. Disana, Zainuddin sangat sukses sebagai penulis dan hidup lebih dari cukup
kenyataan menghantam Zainuddin yang tengah bergelimangan harta dan kemasyhuran. Dalam sebuah pertunjukkan opera, Zainuddin bertemu dengan Hayati, kali ini bersama Aziz, suaminya—hasil dari pernikahan paksa karena harta dan kecantikan. Pernikahan harta dan kecantikan bertemu dengan cinta suci yang tak lekang oleh waktu. Pada akhirnya kisah cinta Zainuddin dan Hayati menemui ujian terberatnya, dalam sebuah tragedi pelayaran kapal Van Der Wijck.

 Tafsiran 4
film ini tetap memiliki daya tarik dari segi dialog yang cenderung puitis yang menjadi penghibur untuk para penonton. Romantisme dan kisah cinta suci yang tak lekang oleh waktu yang terdapat dalam film ini pun dapat menyentuh hati para penonton. Penonton seakan-akan ikut terbawa alur cerita film tersebut sehingga membuat para penonton berlinang air mata. Suasana tahun 1930-an pun dapat mengingatkan penonton pada sejarah Indonesia para era sebelum kemerdekaan.

Tafsiran 5
Film berdurasi 165 menit ini menyuguhkan backsound lagu-lagu yang terkesan kurang serasi dengan plot film dikarenakan instrument modern yang digunakan sehingga terdengar kekinian. Special effect saat kapal tenggelam dapat dikatakan seadanya dan tenggelamnya pun tak jelas apa penyebabnya padahal judul film adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, seharusnya diperjelas apa penyebab tenggelamnya kapal tersebut agar lebih dramatis.

Evaluasi
Sangat disayangkan dalam fil ini effect tenggelamnya kapal tidak terlihat nyata. Kesannya terlalu dipaksakan dan terlihat editannya. Selain itu tidak disebutkan dengan jelas apa penyebab kapal tersebut tenggelam dan hanya ditampilkan diakhir serta sebentar saja, sehingga kurang pasnya judul dengan keseluruhan isi cerita. Tak hanya itu, penggunaan tata bahasa yang begitu berat sehingga sedikit susah untuk dipahami oleh orang awam.
Meskipun begitu, film ini didukung oleh Aktor dan Aktris yang mampu memberi feel kepada para penonton, pemerannya berakting secara totalitas. Penonton juga diajak untuk merasakan emosional atas film ini uang merupakan nilai plus. Ditambah dengan soundtrack yang terasa pas mendampingi adegan-adegan yang ada. Rangkaian kata-kata indah yang puitis juga menambah nilai plus film ini.

Rangkuman
Dari paparan tadi, dapat disimpulkan bahwa perbedaan ras dan begitu kuatnya aturan adat yang dapat menimbulkan berbagai macam problematika kehidupan. Adat dan istiadat yang dianut juga sangat berpengaruh pada kehidupan sosial dan cara pandang seseorang. Selain itu film ini mengajarkan bahwa kita tidak boleh patah semangat hanya karena sesuatu yang membuat kita jatuh, tetapi kita harus bangkit dan membuktikan bahwa kita bisa melewati masa-masa sulit itu.
“Bangkitlah kepuncak, dan buat dia mendongak ke atas dan menatapmu dari bawah”

Sumber :


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar