Follow Us @literasi_smkn23jkt

Jumat, 27 Mei 2016

TEKS EKSPLANASI “ TSUNAMI”

DISUSUN OLEH : ANISYHA LUTFIYAH JURNILIA


( Pernyataan Umum )
   Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertical dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bias disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500 – 100 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam.

( Urutan Sebab Akibat )
    Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jjatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah bebrapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Gerakan vertical pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
    Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut dimana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bias mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya bebrapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer. Gempa yang menyebabkan tsunami yaitu Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal ( 0 – 30 km ), Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter, Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.
    Gerakan vertical ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi tsumani yang tingginya mencapai ratusan meter.
   Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, mempunyai system peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai insitusi seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atau permukaan laut yang terhubung dengan satelit. Perekam tekanan di dasarlaut bersama-sama dengan perangkat yang mengapung di laut buoy, dapat di gunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat  dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. System sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawaii pada tahun 1920-an. Kemudian, system yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika Serikat membuat Pasific Tsunami Warning Center pada tahun 1949, dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan Internasional pada tahun 1965.
   Pemerintah Indonesia, dengan bantuan Negara-negara donor, telah mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia ( Indonesian Tsunami Early Warning System-InaTEWS). Sistem ini berpusat pada Badan Meteorlogi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini memungkinkan BMKG mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang berpotensi mengakibatkan tsunami. System yang ada sekarang ini sedang disempurnakan. Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3 tingkat peringatan sesuai dengan hasil perhitungan Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan ( Decision Support System – DSS).
   Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekeliling Samudra Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia.
   Cara penanggulangan tsunami yaitu melaksanakan evakuasi secara intensif, melaksanakan pengelolaan pengungsi, melakukan terus pencarian orang hilang, dan pengumpulan jenazah, membuka dan hidupkan jalur logistic dan lakukan resuplay serta pendistribusian logistic yang diperlukan, membuka dan memulihkan jaringan komunikasi antar daerah atau kota dan lain-lain.
   Dampak negative yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Sumber :
                                                                                     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar