Follow Us @literasi_smkn23jkt

Selasa, 23 Mei 2017

“Garuda Di Dadaku” : Keyakinan Adalah Kunci Dari Segalanya Untuk Mencapai Kesuksesan

Disusun Oleh : Panji Apriyanto


Judul Film        : Garuda Di Dadaku
Sutradara         : Ifa Isfansyah
Produser          : Shanty Harmayn
Penulis             : Salman Aristo
Pemeran          :
  • Emir Mahira (Bayu)
  • Aldo Tansani (Heri)
  • Marsha Aruan (zahra)
  • Ikranagara (Kakek Bayu)
  • Maudy Koesnaedi (Ibunda Bayu)
  • Ary Sihasale
  • Ramzi

Distributor       : SBO Films, Mizan Productions
Tanggal Rilis    : Kamis, 18 Juni 2009

Orientasi 1
            Film Garuda di Dadaku adalah film yang dirilis pada hari Kamis, 18 Juni 2009. Film ini dibintangi antara lain oleh Emir Mahira, Aldo Tansani, Marsha Aruan, Ikranegara, Maudy Koesnaedi, Ari Sihasale, dan Ramzi, dan lain-lain. Diproduseri oleh Shanty Harmayn dan sutradara  Ifa Isfansyah. Skenarionya ditulis Salman Aristo dan diproduksi SBO Films Dan Mizan Productions.

Orientasi 2
            Lagu "Garuda di Dadaku" adalah lagu yang selalu dinyanyikan PSSI (timnas sepak bola Indonesia) setiap akan bertanding. Lagu ini notasinya diambil dari lagu daerah asal Papua, Apusé. Meski sepak bola merupakan olahraga dan hiburan rakyat Indonesia, namun ada semacam pemikiran pada sebagian orang Indonesia bahwa menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Dalam film ini, pemikiran itu pula yang selalu terlontar pernyataan-pernyataan Kakek Usman (Ikranegara) agar Bayu (Emir Mahira), cucunya itu tidak akan menjadi pemain sepak bola seperti ayahnya. Melalui film ini, ada pesan khusus kepada kita semua, bahwa kita perlu mengapresiasi olah-raga sepak bola dan para pemainnya. Melalui sepak bola nasional, kita mengenal salah satu atlit cerdas yang dimiliki Indonesia.

Tafsiran Isi 1
Bayu, 12 tahun yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, menghadapi dilema menyenangkan kakeknya atau meraih mimpi dalam hidupnya menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari Bayu secara diam-diam berlatih sepak bola sendiri dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil mendribble bola "rolling-rolling" untuk sampai ke lapangan bulu tangkis bermain dengan anak-anak lainnya. Beruntung Bayu mempunyai sahabat yang bernama Heri (Aldo Tansani) si penggila bola, Heri selalu mendorong agar Bayu untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional.

Tafsiran Isi 2
Dengan dukungan sahabatnya ini, Bayu menjadi pantang menyerah untuk meraih mimpinya menjadi pemain sepak bola. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari-cari berbagai alasan kepada Sang Kakek, agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Tetapi hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu ini, dan bahkan persahabatan tiga anak itu terancam putus. Konflik inilah yang dikemas secara apik oleh sang penulis dengan menanamkan nilai-nilai pendidikan, semangat hidup dan persahabatan yang terjalin erat diantara anak-anak dari kelas sosial yang berbeda.

Tafsiran Isi 3
 Bayu, Heri dan Zahra (Marsha Aruan) adalah anak-anak yang mempunyai kendalanya masing-masing, namun mereka bukanlah tipe anak-anak yang loyo, yang gampang menyerah. Heri meski ia cacat tetapi justru menjadi motivator handal bagi Bayu, Zahra dari kalangan jelata pun mempunyai potensi yang bisa diandalkan dengan jiwa seninya. Bayu menghadapi ambisi besar sang Kakek dan harus menjadi anak yang penurut, namun di balik itu, ia justru melakukan sebuah pemberontakan karena ia mempunyai mimpi dan ambisi yang lebih besar untuk menjadi pemain sepak bola. Dan pada akhirnya mimpi Bayu yang kuat ini, berakhir pada kebahagiaan. Lewat kerja keras dan dukungan sahabat-sahabat yang memicu semangatnya dan sekaligus usaha mendapat restu dari sang Kakek.

Tafsiran Isi 4
Masalah pun muncul ketika bayu membohongi kakeknya yang mengira bahwa ia berbakat menjadi seorang pelukis. Tidak diduga kakek datang dan melihat bayu disekolah sepak bolanya dan tiba-tiba ia terserang penyakit jantung dan dilarikan kerumah sakit. Bayu merasa bersalah dan menyesal telah membohongi kakeknya  dan ia memutuskan untuk berhenti bermain bola. Bayu memiliki teman dekat yang senantiasa mendukungnya. Heri, sahabat bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat bayu. Dialah motivator sekaligus “pelatih” Cerdas yang meyakinkan bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Timnas U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. Di tengah upaya kakek Usman mendidik Bayu menjadi orang sukses lewat beragam kursus, Bayu justru bertemu dengan Johan (Ari Sihasale), pelatih sekolah sepak bola Arsenal di Jakarta. Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi perjalanan panjang Bayu untuk masuk menjadi tim sepak bola nasional yang memakai seragam berlambang garuda di bagian dada. Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Akan tetapi, hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu. Bahkan, persahabatan tiga anak itu terancam putus.

Tafsiran Isi 5
Cerita semacam inilah yang ditawarkan “Garuda di Dadaku” pada penonton yang mereka sasar, tidak lain tentu anak-anak bangsa, untuk membuai mereka dalam mimpi-mimpi masa depannya, agar mereka nanti terbangun sebagai anak-anak bangsa yang diharapkan bisa membangun semangat juang yang tinggi, pantang menyerah dan juga mementingkan orang yang kita sayangi, yaitu dukungan dari orang tua dan keluarga.

Evaluasi 1
“Garuda di Dadaku” merupakan Masterpiece yang dibuat oleh orang Indonesia dengan kualitas legendaris dan go Internasional. Mulai dari cerita, rekaman sampai actingnya pun berkualitas Internasional, namun sayangnya film ini mengalami beberapa kesalahan konyol ketika Bayu bermain di stadium Gelora Bung Karno, background yang harusnya penonton berada tampak kosong dan ini menjadi kekurangan dari film “Garuda di Dadaku”.

Rangkuman 
 Film ini dapat diambil beberapa pelajaran hidup yang penting, seperti persahabatan yang kuat dan rela berkorban. Walaupun tujuan utama film ini adalah untuk menghibur ternyata juga memiliki makna yang besar terhadap kemajuan sepak bola Indonesia.

Sumber :


Diakses pada 23 Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar