Follow Us @literasi_smkn23jkt

Senin, 23 November 2015

R.A Kartini: Pelopor Emansipasi Wanita

           
                              Disusun oleh
                              Dini Apriyani



  1.  Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia lahir pada tanggal 21 April 1879 dikota Rembang. Ia adalah putri dari istri pertama , tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Kartini adalah anak perempuan tertua.
  2. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristrikan seorang bangsawan, karena M.A Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah pernikahan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo kakeknya pangeran Ario Tjondronegoro IV diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.
  3. Sampai usia 12 tahun, Kartini dibolehkan sekolah di ELS (Europese Lagere School). Kartini belajar bahasa Belanda, karena Kartini bisa berbahasa Belanda maka dia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Dari buku, koran dll Kartini mempunyai keinginan untuk memajukan perempuan pribumi, karena wanita pribumi mempunyai status sosial yang rendah. Jadi R.A Kartini membuat surat Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan simbol para wanita agar menjadi lebih baik.
  4. Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasehati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
  5. Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran, ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
  6. Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Kartini diberi kebebasan dan didukung oleh suaminya untuk mendirikan sekolah wanita disebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau disebuah bangunan yang sekarang digunakan sebagai gedung pramuka. Pada tanggal 13 September 1904 Kartini melahirkan anak bernama R.M Soesalit.
  7. Ada pertengahan tahun 1903 saat berusi 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah menikah.”... singkat dan pendek saja bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi karena saya sudah kawin...”. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
  8. Berkat kegigihannya Kartini, kemudia didirikan sekolah wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh politik etis.
  9. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief  yang diasuh Pieter Brooshooft dan berbagai paket majalah. Kartini pun kemudian mengirimkan beberapa tulisannya dimuat di De Hollandsche Lelie. Kartini membaca dengan tampak penuh perhatian kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang luas. Buku yang dibaca Kartini sebelum umur 20 terdapat judul Max Havelaar dan surat-surat cinta karya Murtatuli, yang pada November 1901 sudah dibaca 2 kali.
  10. Pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukakan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku ini diberi judul “Door Duisternis Tot Licht”  yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
  11. Presiden Soekarno mengeluarkan keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini , tanggal 21 April, untuk dperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
  12.   R.A Kartini mempunyai beberapa penghargaan yaitu seperti Pahlawan Kemerdekaan yang ditetapkan pada tanggal 2 Mei 1964, tanggal 21 April merupakan tanggal untuk memperingati hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini, Nama R.A Kartini mendapat penghargaan dengan menjadikan namanya sebagai nama jalan dibeberapa kora Belanda. Kemudian ada buku-buku R.A Kartini yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang, Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904, surat-surat Kartini, Renungan tentang dan untuk bangsanya dan masih banyak yang lain.
  13. Raden Adjeng Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai sikap pantang menyerah dalam menghadapi masalah apapun dan dia merupakan perempuan yang tegar. Dia sangat pantas untuk dikagumi oleh banyak orang karena berkat kegigihannya untuk membangkitkan wanita pribumi dalam soal persamaan hukum, pendidikan ataupun dengan yang lainnya.


Daftar Pusaka
diakses pada tanggal 07-november-2015

1 komentar: