Follow Us @literasi_smkn23jkt

Jumat, 20 November 2015

Ki Hadjar Dewantara – Bapak Pendidikan

Oleh: Laras Dewi Fortune
1.   Ki Hadjar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1989, sebagai putra dari Pangeran Sasraningrat dan cucu Pakualam ke-2. Beliau terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada usia 40 tahun, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Beliau menganti namanya dengan maksud agar beliau dapat bebas dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya tanpa gelar kebangsawanannya di depan namanya. Nama Hadjar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hadjar adalah sesorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Beliau memiliki seorang istri yang bernama Nyi Sutartinah. Beliau dan istrinya merupakan hasil perjodohan dari kedua orangtuanya, mereka merupakan saudara sepupu dan berasal dari Keraton Pakualam. Ayah Sutartinah, yaitu Pangeran Sasraningrat merupakan adik kandung dari Pangeran Suryaningrat yakni ayah dari Suwardi. Kedua pangeran tersebut adalah putra dari Sri Pakualam III.
2.    Beliau pertama kali bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) yaitu sekolah dasar untuk anak-anak Eropa atau Belanda dan juga kaum bangsawan. Setelah lulus dari ELS beliau melanjutkan sekolah di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) yaitu sekolah yang dibuat untuk pendidikan dokter pribumi di Batavia pada masa kolonial Belanda. Yang sekarang dikenal sebagai fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Ki Hadjar Dewantara tidak sampai tamat bersekolah di STOVIA karena sakit.

3.   Ki Hadjar Dewantara tertarik dalam dunia jurnalistik atau tulis menulis, hal ini dibuktikan dengan bekerjanya beliau sebagai wartawan dibeberapa surat kabar pada masa itu, seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, beliau tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga  mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.  Beliau juga mengkritik pemerintah Belanda dalam surat kabar De Express lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen Maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga): “…Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si Inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa Inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak kepentingan sedikit pun baginya,” Akibat karangannya yang menghina itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman intemering (hukum buang). Beliau pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Pengasingan itu mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo. Namun beliau menghendaki dibuang ke Negeri Belanda, karena disana mereka bisa mempelajari banyak hal dari pada di daerah terpencil.

4.   Ki Hadjar Dewantara juga merupakan seseorang yang aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada 1908, beliau aktif di seksi propaganda Budi Utomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, pada 25 Desember 1912 bersama Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, beliau mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Dipengasingannya di Belanda Ki Hadjar Dewantara mulai bercita-cita untuk memajukan kaumnya yaitu kaum pribumi. Di belanda pula beliau memperoleh pengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

5.   Kemudian beliau kembali ke tanah air pada 1918. Di tanah air beliau mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Beliau mendirikan sebuah sekolah yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Sekolah ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air serta berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus berhubungan satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidkan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratis).

6.     Pemerintah konservatif Gubernur Jendral De Jonge menyambut kegelisahan orang Belanda dengan mengeluarkan “ordonasi pengawasan” yang dimuat dalam Staatsblad No. 494 17 September 1932. Isi dan tujuan dari ordonasi tersebut adalah memberi kuasa kepada alat-alat pemerintah untuk mengurus wujud dan isi sekolah-sekolah partikelir yang tidak dibiayai oleh negeri. Sekolah partikelir harus meminta izin lebih dahulu sebelum dibuka dan guru-gurunya harus mempunyai izin mengajar. Rencana pengajaran harus pula sesuai dengan sekolah-sekolah negeri, demikian juga peraturan-peraturannya. Ordonasi itu menimbulkan perlawanan umum di kalangan masyarakat Indonesia dan dimulai oleh prakarsa Ki Hadjar Dewantara yang mengirimkan protes dengan telegram kepada Gubernur Jendral di Bogor pada 1 Oktober 1932.

7. Pada 3 Oktober 1932 Ki Hadjar Dewantara mengirimkan maklumat kepada segenap pimpinan pergerakan rakyat, yang menjelaskan lebih lanjut sikap yang diambil Tamansiswa. Aksi melawan ordonasi didukung sepenuhnya oleh 27 organisasi antara lain Istri Sedar, PSII, Dewan Guru Perguruan Kebangsaan di Jakarta, Budi Utomo, Paguyuban Pasundan, Persatuan Mahasiswa, PPPI, Partindo, Muhammadiyah, dan lain-lain. Juga golongan peranakan Arab dan Tionghoa mendukung aksi ini. Pers Nasional tidak kurang menghantam ordonasi itu melalui tajuk rencananya. Moh. Hatta sebagai pemimpin Pendidikan Nasional Indonesia, menganjurkan supaya mengorganisasi aksi yang kuat. Perlawanan Tamansiswa terhadap ordonasi sekolah liar merupakan masa gemilang bagi sejarahnya, yang juga berarti mempertahankan hak menentukan diri sendiri bagi bangsa Indonesia. Sesudah itu Tamansiswa akan mengadakan lagi perlawanan terhadap peraturan pemerintah kolonial yang dapat dianggap merugikan rakyat. Pada 1935 Tamansiswa mempunyai 175 cabang yang tersebar di sekolahnya ada 200 buah, dari mulai sekolah rendah hingga sekolah menengah.

8.    Setelah Indonesia merdeka Tamansiswa mengadakan Rapat Besar (konferensi) yang ke-9 di Yogyakarta. Dalam Rapat Besar itu terdapat tiga pendapat dikalangan Tamansiswa dalam menghadapi kemerdekaan. Pertama, pendapat bahwa tugas Tamansiswa telah sesuai dengan tercapainya Indonesia Merdeka. Kedua, Tamansiswa masih perlu ada, sebelum pemerintah Republik Indonesia dapat mengadakan sekolah-sekolah yang mencukupi keperluan rakyat. Ketiga, sekolah-sekolah partikelir yang memang mempunyai dasar sendiri tetap di perlukan, walaupun nantinya jumlah sekolah sudah cukup dan isinya juga sudah nasional. 
9.   Ki Hadjar Dewantara juga memiliki semboyan yang sampai sekarang digunakan dalam dunia pendidikan Indonesia yaitu:
Ing Ngarso Sung Tulodo (Di Depan Memberi Contoh).
Ing Madyo Mangun Karso (Di Tengah Memberi Semangat).
Tut Wuri Handayani (Di Belakang Memberi Dorongan).

10. Selepas kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 1945, Ki Hadjar Dewantara diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama. Pada 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Berkat jasa-jasanya, beliau dianugrahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan juga sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 1959, 28 November 1959). Tanggal kelahiran beliau 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidkan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, Tut Wuri Handayani, menjadi slogan Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia, KRI Ki Hadjar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan Rp. 20.000 tahun emisi 1998.

11. Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Kemudian oleh pihak penerus perguruan Tamansiswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar Dewantara sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta dan surat-menyurat sesama hidup Ki Hadjar Dewantara sebagai jurnalis, pendidik, budayawan, dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.

12. Ki Hadjar Dewantara merupakan seseorang yang memiliki rasa humanis dan manusiawi yang melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Seseorang visioner dengan sikap memperjuangkan pendidikan di Indonesia. Seseorang yang pantang menyerah dengan berbagai upaya yang telah dilakukan selama memperhatikan Tamansiswa. Walaupun selalu dihalangi oleh pemerintah Belanda. Dan seseorang yang merakyat baik secara fisik maupun hatinya.




Daftar Pustaka
http://www.mutiararahmah.info/par/dewantara.html (Diakses pada 5 November 2015).
https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara (Diakses pada 5 November 2015).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar