Follow Us @literasi_smkn23jkt

Jumat, 14 Juni 2019

Sebuah Perjuangan Dan Kegigihan Dilan Untuk Mendapatkan Hati Milea Dalam Novel Milea, Suara Dari Dilan

Disusun oleh : Umi Sulaeman

Judul resensi "Sebuah Perjuangan Dan Kegigihan Dilan Untuk Mendapatkan Hati Milea"


IDENTITAS BUKU
Judul                           : Milea, Suara dari Dilan
Nama Penulis              : Pidi Baiq
Penerbit                       : Pastel Books
Tahun Terbit                : 2016
Tebal Buku                  : 360 Halaman 
Sudut Pandang           : Orang Pertama Serba Tahu
Genre                          : Romansa
ISBN                           : 978-602-0851-56-3
Harga                          : Rp 79.000,-

Novel Milea, Suara dari Dilan bergenre romansa humor yang ditulis oleh Pidi Baiq. Penulis kelahiran Bandung, 8 Agustus 1972 ini mulai dikenal melalui grup band 'The Panas Dalam' dan semakin dikenal dengan karyanya yang berjudul Dilan. Tidak hanya sebagai penulis, seniman multitalenta ini juga seorang dosen, ilustrator, komikus, musisi, dan pencipta lagu. Pemilik akun Twitter bernama @pidibaiq ini telah menulis beberapa novel, diantaranya Dilan, Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, Drunken Marmut, Al-Asbun, At-Twitter, Hanya Salju dan Pisau Batu.
Novel ini adalah novel yang mengajak pembacanya bernostalgia dan membayangkan percintaan anak SMA menggunakan kata-kata yang gombal dan romantis karena berbeda sekali dengan zaman sekarang yang teknologi semakin maju. Didalam novel ini mengkisahkan tentang persahabatan dan percintaan. Persahabatan yang dimaksud dalam novel ini adalah Dilan yang tetap setia pada sahabatnya walaupun mereka adalah Geng Motor. Percintaan yang dimaksud yaitu antara Dilan dan Milea yang tidak melulu indah. Pengenalan singkat Dilan waktu dia masih kecil, kira-kira waktu masih berumur 5 tahun, pernah ingin menjadi macan walaupun itu tidak mungkin. Dia pernah menamai sepedanya dengan nama "mobil derek". Dia juga pernah sholat menggunakan mukena.
Setelah SMA, Dilan kesekolah tidak lagi naik sepeda melainkan naik motor. Pulangnya nongkrong di warung kang Ewok. Disana dia biasa berkumpul dengan teman-temannya. Diwarung bi Eem disitulah Dilan mendengar nama Milea. Seseorang gadis cantik yang berasal dari Jakarta. Dilan ingin melakukan pendekatan dengan Milea, Dilan minta do'a pada bundanya agar lancar. Setelah banyak yang sudah Dilan lakukan dalam rangka mendekati Milea, Waktu akhirnya datang.
Tanggal 22 Desember tahun 1990 di Bandung tepatnya diwarung bi Eem, Dilan resmi berpacaran dengan Milea Adnan Husaein. Dinyatakan secara lisan dan tulisan, yang lengkap dibubuhi tanda tangan mereka berdua diatas materai masing-masing merasa di maui, mereka sangat diterima dan membiarkan kesempurnaan di dalam berpacaran. Kesehariannya berpacaran dengan Milea sangat romantis dan juga seru saat berbicara di atas motornya Dilan. Dilan membuat begitu banyak puisi yang indah untuk Milea. Kelakuan Dilan yang konyol selalu membuat milea tertawa dan juga merasa senang.
Suatu ketika Dilan putus dengan Milea. Itu semua terjadi karena sebuah kesalahpahaman antara Dilan dan Milea yang disebabkan oleh kematian temannya yang bernama Akew. Milea mengira bahwa kematian Akew disebabkan oleh perselisihan antara geng motor. Milea marah kepada Dilan, karena Dilan juga merupakan anggota geng motor. Milea khawatir kalau Dilan juga akan mengalami hal yang sama seperti Akew. Milea menyuruh Dilan keluar dari geng motor, namun Dilan tetap saja tidak menghiraukannya, Milea marah kepada Dilan sampai tidak mau diajak bicara, dan lainnya yang biasa mereka lakukan jika bersama. Itulah yang disebabkan Dilan dan Milea putus. Setelah putus dengan Milea, Dilan merasa kesepihan dan benar-benar rindu pada Milea.
Kemudian setelah lulus SMA, Dilan melanjutkan kuliahnya di salah satu perguruan tinggi Negri di Bandung. Sebulan setelah Burini wafat, Dilan bertemu lagi dengan Milea di acara reuni SMA, dia datang dengan Mas Herdi. Dilan merasa senang bisa berkumpul lagi dengan teman-teman sesama SMA karena sudah lama tidak bertemu. Disaat Dilan sudah melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi Negri di Bandung, dia kehilangan seorang ayahnya yang biasa ia anggap seorang pahlawan, kini Dilan kehilangan semangat hidupnya, tetapi dia tetap tegar menghapinya dan ikhlas.
Buku memiliki keunggulan diantaranya cover-nya bagus dan sangat cocok sehingga sesuai dengan sasaran pembaca yakni para remaja. Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan tidak bertele-tele. Terdapat ilustrasi gambar yang membuat novel ini menjadi lebih menarik dan membuat pembaca seolah tau bagaimana kejadian aslinya. Untuk para pembaca lelaki bisa menjadi pelajaran bagaimana taktik menguasai wanita, terdapat pula banyak puisi yang memang di selipkan pada buku.
Namun bagi para pembaca yang belum membaca kedua novel sebelumnya pasti akan merasa kurang puas. Karena di novel ini Dilan hanya menceritakan hal-hal yang perlu saja dan tidak mengulang cerita yang sudah diceritakan pada kedua novel sebelumnya. Endingnya cukup membosankan, karena ending dari kisah cinta Dilan dan Milea sudah di cerikan di seri novel sebelumnya. Ada beberapa adegan yang menjadikan pembaca penasaran mengenai apakah umum jika seseorang melakukan hal seperti itu di tahun 90-an. Tentunya hal ini kembali pada riset dari penulis, kemungkinan untuk beberapa pembacan sedikit merasa janggal.
Terlepas dari kelemahan-kelemahannya, novel ini memiliki manfaat sebagai penghilang stress. Karena hampir diseluruh bagiannya penulis mengajak kita untuk bernostalgia melihat kembali bagai mana pacaran tanpa ponsel dan hanya mengandalkan telepon rumah serta betapa sakralnya surat cinta. Karena terbatas dan selalu berjeda, komunikasi antara Dilan dan Milea saat mereka tak bersama jadi sebuah komunikasi yang istimewah. Cerita cinta jaman dulu yang tak serba instan dan selalu memiliki kualitasnya sendiri sangat menghibur para pembacanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar