Follow Us @literasi_smkn23jkt

Kamis, 13 Juni 2019

Percintaan dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Disusun Oleh : Jessica Aulia 



Judul Novel     : Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Penulis                   : Buya Hamka
Penerbit                 : Bulan Bintang
Tahun Terbit         : 2003
Tempat Terbit       : Jakarta
Tebal Halaman     : 224 halaman
Cetakan                  : Cetakan ke 4 (2015)
Harga                      : Rp59.000,00

     Novel berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini merupakan karya sastra dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau sering kita sebut dengan Buya Hamka. Novel ini bertema tentang percintaan terutama cinta sejati, cinta yang tulus dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak bisa bersatu karena adanya sebuah larangan adat istiadat yang kental.

     Novel ini mengisahkan tentang cinta, adat, keturunan, dan kekayaan. Semua itu masuk dalam kisah yang dibungkus oleh BUYA HAMKA dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini. Kisah cinta abadi dari Zainuddin dan Hayati yang tak lekang oleh waktu, tak terpisah oleh dunia dan pincangnya adat di negeri Minang. Minangkabau sebagai salah satu suku yang memegang tegus adat dan tradisi. Keturunan dan kekayaan menjadi segala-galanya. Cinta suci Zainuddin untuk Hayati terhalang oleh keturunan dan kemiskinan. Zainuddin yang merupakan keturunan campuran Minang dan Bugis tidak mendapat pengakuan sebagai suku Minang asli, karena ibunya bersuku Bugis. Cinta mereka pun terhalang dan Hayati menikah dengan Aziz, seorang Minang asli dan kaya. Zainuddin setia dan tetap hidup dengan dirinya dan karya-karyanya. Zainuddin pindah ke Pulau Jawa bersama bang Muluk sahabatnya dan menemukan titik kesuksesan disana (Surabaya). Hayati dan Aziz akhirnya berpisah, Aziz mati bunuh diri dan Hayati menjanda. Zainuddin yang dermawan tidak ingin melihat Hayati menderita, meskipun Hayati telah menjadi janda, Zainuddin tidak menikahi Hayati. Hayati diminta untuk pulang ke Padang menaiki kapal Belanda termewah yaitu Kapal Van Der Wijck yang berlabuh ke laut Andalas. Hingga saatnya tiba Hayati pulang dan tak kembali lagi seiring dengan kecelakaan yang menenggelamkan Kapal Van Der Wijck tersebut. Nyawa Hayati tidak dapat diselamatkan. Zainuddin merasa menyesal atas keputusannya menyuruh Hayati kembali ke Padang. Setelah hayati meningeal dalam peristiwa itu, Zainuddin setiap hati mendatangi kubur Hayati, ia hidup dalam baying cintanya yang tetap ada dihatinya, Zainuddin semakin rapuh dan sakit-sakitan, Zainuddin yang terkenal dengan karya-karya hikayatnya kini telah tenggelam bersama bayang dan angan bersama Hayati. Hingga setahun kemudian Zainuddin menyusul hayati kealam abadi. Zainuddin meninggalkan harta benda melimpah dan karya-karya sastranya yang indah. Saat maut menjemputnya Zainuddin menyelesaikan kisah hikayat cintanya bersama Hayati dalam tulisan terakhirnya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Zainuddinpun dikubur bersama angan dan cintanya yang abadi di samping kubur Hayati sang kekasih abadinya.

     Kelebihan buku ini sangat menyentuh hati pembacanya, mengajarkan banyak hal salah satunya adalah untuk selalu sabar. Novel ini mengembangkan jiwa, menjadikan pembaca merasa berada langsung pada periode dan tempat yang ada dalam novel. Buya Hamka membawa pembaca pada periode saat Indonesia masih berada dalam dunia penjajahan. Dibalut dengan kisah cinta yang suci begitu menghaluskan jiwa. Buya Hamka menggambarkan Negeri Padang dengan begitu indah dan menawan.

     Kekurangan buku ini terlalu banyak menuliskan surat-surat antara Hayati dan Zainuddin sehingga secara tidak langsung membuat bosan pembaca dan menggunakan bahasa yang terkadang sulit dipahami. Begitu juga dengan adat yang diceritakan dalam novel ini sangat tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, manusia yang berhak mendapat cinta, pengakuan, dan keluarga.

     Pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam buku ini sangat banyak, yang paling utama yaitu untuk selalu sabar semua jodoh manusia ditangan Tuhan. Setiap hamba yang ingin berusaha pasti akan ada jalannya. Buku ini kurang cocok jika dibaca oleh anak-anak. Karena bahasa yang digunakan sedikit susah dipahami. Pengarang banyak menggunakan bahasa Melayu.
Buku ini mengajarkan kita akan suatu kesabaran dalam menanti jodoh karena jodoh manusia ditangan Tuhan. Dalam buku ini, cinta yang tulus dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tidak bisa bersatu karena adanya sebuah larangan adat istiadat yang kental. Setiap hamba yang ingin berusaha pasti akan ada jalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar