Follow Us @literasi_smkn23jkt

Kamis, 07 Mei 2015

Kemiskinan merajalela




                                                       Disusun Oleh : Muammar

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan,dll.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
  • Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
  • Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi. Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang lainnya.
  • Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi tempatnya bekerja melarang

Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolut dan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengonsumsi kurang dari $2/hari."[1] Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001.[1] Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.

  • Dalam sebuah lingkungan belajar, terutama murid yang lebih kecil yang berasal dari keluarga miskin, kebutuhan dasar mereka seperti yang dijelaskan oleh Abraham Maslow dalam hirarki kebutuhan Maslow; kebutuhan ini beralih ke kemiskinan pada umumnya, yaitu efek Matthew.
Perdebatan yang berhubungan dalam keadaan capital manusia dan capital individual seseorang cenderung untuk memfokuskan kepada akses capital instructional dan capital social yang tersedia hanya bagi mereka yang terdidik dalam sistem formal

Deklarasi Copenhagen menjelaskan kemiskinan absolut sebagai "sebuah kondisi yang dicirikan dengan kekurangan parah kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi."
Bank Dunia menggambarkan "sangat miskin" sebagai orang yang hidup dengan pendapatan kurang dari PPP$1 per hari, dan "miskin" dengan pendapatan kurang dari PPP$2 per hari. Berdasarkan standar tersebut, 21% dari penduduk dunia berada dalam keadaan "sangat miskin", dan lebih dari setengah penduduk dunia masih disebut "miskin", pada 2001.

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
  • penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin. Contoh dari perilaku dan pilihan adalah penggunaan keuangan tidak mengukur pemasukan.
  • penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga. Penyebab keluarga juga dapat berupa jumlah anggota keluarga yang tidak sebanding dengan pemasukan keuangan keluarga.
  • penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar. Individu atau keluarga yang mudah tergoda dengan keadaan tetangga adalah contohnya.
  • penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi. Contoh dari aksi orang lain lainnya adalah gaji atau honor yang dikendalikan oleh orang atau pihak lain. Contoh lainnya adalah perbudakan.
  • penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
  • Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan. Di Indonesia salah satunya berbentuk BLT.
  • Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
  • Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan. Persiapan bagi yang lemah juga dapat berupa pemberian pelatihan sehingga nanti yang bersangkutan dapat membuka usaha secara mandiri.

    Presiden ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menyatakan, kemiskinan di Asia dan Afrika masih belum bisa teratasi. Walaupun, persentase kemiskinan terus menurun tiap tahun. 

    "Yang pertama muncul di benak saya adalah kemiskinan. Kemiskinan telah ditekan dari 80 persen pada 1950 menjadi 20 persen. Namun, kemiskinan masih menjadi masalah yang menganggu di Asia Afrika," kata SBY dalam pidatonya di Konferensi Parlemen Asia-Afrika, di Gedung DPR/MPR/DPD, Jakarta, Kamis (22/4/2015).

    SBY mengatakan, kemiskinan berdampak pada aspek kehidupan masyarakat. Masyarakat tidak mampu membiayai kesehatannya ketika mereka sakit, mereka juga tidak mampu membeli makanan dan minuman.

    "Di Asia Afrika, 700 juta orang hidup di bawah 1 dollar dalam sehari. Banyak yang meninggal karena HIV/AIDS, Malaria, dan TBC. Banyak yang mengalami krisis air dan makanan," ujar Ketua Umum Partai Demokrat itu.

    Chair of Global Green Growth Institute ini mengatakan, solusi untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan mengembangkan ekonomi di negara Asia Afrika. Pengembangan ini dapat dengan mudah tercapai, sebab situasi sekarang mengalami banyak kemajuan, terutama sejak 60 tahun terakhir. "Negara-negara di Asia Afrika sudah mempunyai banyak sumber daya untuk dikembangkan. Negara-negara di Asia Afrika saat ini tidak hanya menjadi pasar bagi negara lain, tapi juga bisa memproduksi kebutuhannya sendiri," imbuh SBY.

    SBY menegaskan, pemerintahan yang bai‎k merupakan jaminan pengembangan ekonomi di Asia Afrika. Yang diperlukan adalah sistem pemerintahan yang baik untuk membangun kerja sama.
    "Apapun model ekonomi dan paham politiknya, tanpa pemerintahan yang baik hal itu tidak akan tercapai," tandas SBY.

    Standing Applause untuk SBY

    SBY menyampaikan pidaton dalam bahasa Inggris sekitar 15 menit. ‎Selesai berpidato, anggota parlemen Asia-Afrika memberikan standing applause atau tepuk tangan meriah sambil berdiri.

    Selain SBY, Ketua Badan Kerja sama Antar Parlemen Nurhayati Ali Assegaf juga menggunakan bahasa Inggris. Ini dilakukan saat ia memberikan laporan pertanggungjawaban dan saat menjadi moderator dalam sesi I bersama SBY.

    Sementara, Presiden Joko Widodo atau Jokowi memilih menggunakan bahasa Indonesia saat memberikan pidato dalam pembukaan Konferensi Parlemen Asia-Afrika. Tepuk tangan para delegasi juga diberikan pada Jokowi. Perbedaannya tanpa standing applause.

    Ketua DPR Setya Novanto‎ memilih berkomunikasi dengan cara yang sama seperti Jokowi, menggunakan bahasa Indonesia
http://news.liputan6.com/read/2218998/sby-kemiskinan-masih-hantui-asia-afrika
http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar