Follow Us @literasi_smkn23jkt

Rabu, 29 April 2015

Marasmus (Gizi Buruk)

Oleh : Ridwan Annur Muiz


Gizi Buruk menurut Almatsier (2009), adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Yang dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik dan lebih. Status gizi baik atau optimal terjadi apabila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin, jika keadaan sebaliknya terjadi gizi kurang.

Akibat gizi buruk pada balita dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Pada tingkat kecerdasan karena tumbuh kembang otak 80% terjadi pada masa dalam kandungan sampai usia 2 tahun. Pada anak yang pendek (stunted) mempunyai rata-rata score Intelligence Quotient (IQ)11 poin (UNICEF, 1998), kemudian di perkirakan Indonesia kehilangan 220 juta IQ poin dan menurunkan produktivitas 20-30%. Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. 

Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
  • Kurangnya asupan gizi dari makanan. 
  • Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu:
  • Keluarga miskin.
  • Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak.
  • Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.
 Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.
Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu:
  • Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat.
  • Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak.
  • Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.
Indikasi Gizi Buruk :
Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. 

Tipe gizi buruk terbagi menjadi tiga tipe yaitu Kwasiorkor, Marasmus dan Marasmic  :
  • Marasmus adalah bentuk malnutrisi di mana jumlah protein dan kalori yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga terjadi defisit energi dalam tubuh. Marasmus dapat menyebabkan hilangnya jaringan lemak, otot, dan jaringan lain dalam tubuh . Malnutrisi terjadi ketika tubuh Anda tidak mendapatkan cukup protein dan karbohidrat. Marasmus merupakan salah satu bentuk yang paling serius dari malnutrisi protein-energi (PEM) yang terjadi di dunia Marasmus paling sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang, seperti Afrika, Amerika selatan, dan Asia Selatan, di mana kemiskinan, persediaan makanan yang tidak memadai dan air yang terkontaminasi lazim terjadi. Air yang terkontaminasi dapat mengandung bakteri atau parasit lain, yang akan masuk ke tubuh kita ketika kita meminumnya. Marasmus sering dijumpai pada anak berusia 0 - 2 tahun.
Gejala marasmus dapat berkisar antara ringan hingga berat tergantung pada tingkat malnutrisinya. Semua orang sangat mungkin untuk menderita marasmus harian atau hanya sekali-sekali. Ketika marasmus menjadi parah, maka akan muncul beberapa hal berikut:
  1. Diare kronis atau persisten
  2. Muntah berkepanjangan
  3. Perut buncit
PENGOBATAN
Pengobatan rutin yang dilakukan di rumah sakit berupa 10 langkah penting yaitu:
  1. Atasi/cegah hipoglikemia.
  2. Atasi/cegah hipotermia.
  3. Atasi/cegah dehidrasi
  4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit
  5. Obati/cegah infeksi
  6. Mulai pemberian makanan
  7. Fasilitasi tumbuh-kejar (“catch up growth”)
  8. Koreksi defisiensi nutrien mikro
  9. Lakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental
  10. Siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh.
Beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak :
  1. Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. Setelah itu, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah berumur 2 tahun.
  2. Anak diberikan makanan yangbervariasi, seimbang antara kandungan protein, lemak, vitamindanmineralnya. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10%dari total kalori yang dibutuhkan, sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat.


Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar