Follow Us @literasi_smkn23jkt

Minggu, 05 April 2015

GEMPA BUMI

OLEH : FITRI NURAENI

Gempa bumi adalah getaran bumi atau getaran kulit bumi secara tiba-tiba,bersumber pada lapisan kulit bumi (litosfer) bagian dalam, dirambatkan oleh kulit bumi ke permukaan bumi. Gempa bumi di sebabkan adanya pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam kulit bumi secara tiba-tiba. Gempa bumi termasuk bagian dari tenaga endogen yang merusak, menyimpang dari sifat tenaga endogen pada umumnya, yaitu membangun tetapi merupakan gejala sampingan tenaga endogen yaitu tektonisme dan vulkanisme.

Proses Terjadinya Gempa Bumi
Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Lapisan Bumi
Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform).
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.
Jalur gempa bumi dunia
Indonesia merupakan daerah rawan gempabumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.
Lempeng Indo-Australia bergerak relatip ke arah utara dan menyusup kedalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatip ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.
Belajar dari pengalaman kejadian gempabumi dan tsunami di Aceh, Pangandaran dan daerah lainnya yang telah mengakibatkan korban ratusan ribu jiwa serta kerugian harta benda yang tidak sedikit, maka sangat diperlukan upaya-upaya mitigasi baik ditingkat pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi resiko akibat bencana gempabumi dan tsunami.
Mengingat terdapat selang waktu antara terjadinya gempabumi dengan tsunami maka selang waktu tersebut dapat digunakan untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat sebagai salah satu upaya mitigasi bencana tsunami dengan membangun Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System / Ina-TEWS).
 Tipe-Tipe Gempa Bumi dan Proses Terjadinya
Menurut para ahli seismologi, terjadinya gempa bumi dapat dibedakan atas 3 macam yaitu, gempa vulkanik, gempa runtuhan, dan gempa tektonik.
1.    GEMPA VULKANIK        
Gempa vulkanik yaitu gempa bumi sebagai akibat letusan gunung api. Gunung api yang akan meletus selalu diiringi dengan gempa yang menggetarkan permukaan bumi disekitarnya, hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang akan keluar dari perut bumi ketika gunung akan meletus. Ketika magma bergerak kepermukaan gunung api, ia akan bergerak dan memecahkan bebatuan gunung api. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya getaran yang cukup kuat dan berkepanjangan sehingga menimbulkan gempa bumi.
Gempa vulkanik yaitu gempa bumi sebagai akibat letusan gunung api. Gunung api yang akan meletus selalu diiringi dengan gempa yang menggetarkan permukaan bumi disekitarnya, hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang akan keluar dari perut bumi ketika gunung akan meletus. Ketika magma bergerak kepermukaan gunung api, ia akan bergerak dan memecahkan bebatuan gunung api. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya getaran yang cukup kuat dan berkepanjangan sehingga menimbulkan gempa bumi.
Disamping akibat dari tumbukan antara magma dengan dinding-dinding gunung api, gempa vulkanik juga dapat disebabkan oleh tekanan gas pada letusan yang sangat kuat dan perpindahan magma didalam dapur magma. Pada umumya getaran yang kuat hanya ada disekitar gunung api itu saja. Gempa vulkanik terjadi sebelum dan selama letusan gunung api terjadi. Gempa vulkanik hanya sekitar 7% dari jumlah gempa yang terjadi didunia.
2.    GEMPA RUNTUHAN
Gempa runtuhan disebut juga tanah terban. Gempa ini terjadi di daerah yang terdapat banyak rongga-rongga dibawah tanah, seperti :
a.    Daerah kapur yang banyak terdapat sungai  atau gua dibawah tanah tidak dapat menahan menahan atap gua.
b.    Daerah pertambangan yang banyak terdapat rongga-rongga dibawah tanah untuk mengambil bahan tambang. Gempa runtuhan atau tanah terban ini jarang terjadi.
3.    GEMPA TEKTONIK
Sampai saat ini yang dianggap sebagi fenomena alam gempa bumi yang sebenarnya adalah gempa tektonik. Gempa tektonik adalah gempa bumi yang terjadi karena adanya pergeseran antara lempeng-lempeng tektonik yang berada jauh dibawah kulit permukaan bumi. Pergeseran lempeng-lempeng tektonik itu menimbulkan energi yang luar biasa besarnya, sehingga menimbulkan goncangan yang dapat kita rasakan dipermukaan bumi. 
4.    LEDAKAN NUKLIR
Gempa ini terjadi di sebabkan oleh peledakan nuklir. Pada umumnya peristiwa ini terjadi pada Negara-negara yang sedang perang atau yang melakukan percobaan hasil rakitnya. Kekuatan gempa ini tergantung dari kekuatan dari hantaman nuklir tersebut.

Pembagian Gempa Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum
Disamping skala kekuatan gempa berdasarkan intensitasnya, perlu kita ketahui kekuatan gempa disatu daerah selain di pengaruhi oleh jaraknya dari pusat gempa diatas itu sendiri dan kedalaman pusat gempa di dalam bumi (hiposentum). Makin dangkal hiposentrumnya, makin kuat gempa yang dirasakan dipermukaan bumi. Oleh karena itu berdasarkan kedalam hiposentrumnya gempa bumi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1.    Gempa dangkal, dengan kedalaman hiposentrumnya kurang dari 60 Km.
2.    Gempa menengah, dengan kedalaman hiposentrumnya antara 60-300 Km.
3.    Gempa dalam, dengan kedalaman hiposentrumnya lebih dari 300 Km.
Skala Kekuatan Gempa Bumi
Pada setiap peristiwa gempa bumi yang terjadi, tentu kita pernah mendengar istilah skala richter. Semakin besar kekuatan gempa (magnitudo), semakin besar pula kekuatan gempa yang terjadi. Ukuran skala gempa (magnitudo) berdasarkan yang dibuat richter dapat kita lihat pada tabel berikut.
·         Skala Richter
No
Magnitudo
Ciri-ciri/ akibat
1
2,0 – 3,4
Tidak dapat dirasakan oleh manusia, tetapi dapat direkam oleh seismograf.
2
3,5 – 4,2
Hanya dapat dirasakan oleh sebagian kecil orang.
3
4,3 – 4,8
Getaran dapat dirasakan oleh banyak orang
4
4,9 – 5,4
Dapat dirasakan oleh semua orang
5
5,5 – 6,1
Terdapat sejumlah kecil bangunan yang rusak
6
6,2 – 6,9
Bangunan banyak yang rusak
7
7,0 – 7,9
Kerusakan bangunan lebih besar, bangunan runtuh, rel KA bengkok
8
7,4 – 7,9
Terjadi kerusakan yang hebat
9
> 8,0
Terjadi kerusakan total, semua bangunan runtuh, peristiwanya tergolong bencana besar
Gempa bumi terkuat yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia adalah gempa bumi di chile, yang terjadi pada tahun 1960 dengan kekuatan 9.5 skala richter. Sementara gempa bumi diwilayah Indonesia yang tergolong besar pernah terjadi di Aceh yang menimbulkan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 berkekuatan 8,9 skala Richter, gempa di kepulauan Nias pada tanggal 28 mei 2005 berkekuatan 8,7 skala Richter, dan gempa bumi Yogyakarta mei 2006 dengan kekuatamn 5,9 skal Richter. Sebenarnya skala yang dibuat oleh Richter bukan satu-satunya ukuran yang digunakan untuk mengetahui kekuatan gempa. Disamping skala kekuatan gempa (magnitudo) yang dibuat Richter, ada skala lain yang bernama skala Intensitas.
Ukuran skala intensitas ini didasarkan pada getaran yang tersisa dipermukaan bumi, misalnya dari akibat gempa itu sendiri terhadap manusia dan alam sekitarnya. Skala intensitas ini disebut juga skala kekuatan relatif. Skala kekuatan relatif disusun oleh Mercalli dan Cancani terdiri dari tingkat atau intensitas I sampai dengan VII. Namun  Van Bemmelen membuat penyesuaian pengukuran yang sesuai dengan kondisi di Indonesia.
PROSES PERAMBATAN GEMPA BUMI
Proses perambatan gempa bumi melalui 3 macam cara yaitu:
1.    Getaran Longitudinal (merapat-merenggang)
Getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui bagian dalam bumi. Kecepatan getaran ini besarnya mencapai 7-14 km/jam. Getaran ini datang paling awal dan merupakan getaran pendahuluan yang pertama atau disebut juga getaran primer.
2.    Getaran Tranversal (naik-turun)
getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui bagian dalam bumi. Kecepatannya mencapai 4-7 km/jam. Getaran ini datang setelah getaran longitudinal dan merupakan getaran pendahuluan kedua atau disebut juga getaran sekunder.
3.    Getaran Gelombang Panjang
Getaran ini berasal dari episentrum dan bergerak melalui bagian permukaan bumi. Kecepatannya 3,8 – 3,9 km/jam. Getaran ini datang paling akhir dan merupakan getaran pokok. Getaran inilah yang menimbulkan kerusakan.
.        Faktor-fakor yang mempengaruhi Besarnya kerusakan dan Banyaknya Korban Akibat Gempa
Banyaknya korban jiwa yang diakibatkan gempa bumi terjadi karena pusat-pusat kepadatan diperkotaan besar dan daerah industri. Kebanyakan terjadi akibat dari besarnya getaran yang menyebabkan runtuh nya bangunan dengan struktur yang lemah.
Faktor lain yang mempengaruhi kerusakan akibat gempa adalah lokasi, misalnya longsoran, batuan/tanah yang mengembang, struktur geologi, goncangan air didanau/waduk, patahan dan likuifaksi. Gempa yang besar ini dapat menimbulkan terjadinya longsoran, retakan, patahan, likuifaksi, serta tsunami yang dahsyat pula dan banyak memakan korban.
Disamping faktor-faktor yang disebutkan diatas, banyaknya kerusakan dan kerugian akibat gempa juga ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :
1.    Skala atau magnitudo gempa.
2.    Durasi dan kekuatan getaran.
3.    Jarak dan sumber gempa terhadap perkotaan.
4.    Kedalaman sumber gempa.
5.    Kualitas tanah dan bangunan.
6.    Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai.

 AKIBAT YANG DITIMBULKAN DARI GEMPA BUMI
DAMPAK FISIK
DAMPAK SOSIAL
·         Bangunan roboh
·         Kemiskinan
·         Kebakaran
·         Kelaparan
·         Jatuhnya korban jiwa
·         Menimbulkan penyakit
·         Tanah longsor akibat guncangan
·         Melumpuhkan politik
·         Permukaan tanah menjadi merekat dan jalan menjadi putus
·         Melumpuhkan system ekonomi
·         Banjir akibat rusaknya tanggul

·         Tsunami

Kerusakan-kerusakan Yang Terjadi Akibat Gempa Bumi
Peristiwa-peristiwa bencana bumi selalu menimbulkan kerugian, baik berupa kerusakan infrastruktur, maupun korban jiwa. Dari catatan sejarah gempa bumi yang pernah terjadi di sleuruh dunia sejak 4.000 tahun yang lalu hingga kini, telah memakan korban jiwa lebih dari 13 juta orang. Sedangkan kerusakan-kerusakan yang umumnya terjadi sebagai gempa bumi antara lain :
1.    Kerusakan jalan karena terjadi keretakan, patah, terpotong, mengalami keamblasan, longsor dipinggir jalan, aspal terkelupas dan sebagainya.
2.    Kerusakan jembatan akibat terpotongnya konstruksi jembatan dengan jalan. Jalan yang menghubungkan jembatan mengalami ambles, konstruksi jembaran rusak (patah, bengkok, miring, putus), pondasi jembatan ambles kedalam tanah, dll.
3.    Kerusakan bangunan dipusat perekonomian dan pemerintahan seperti perkotaan, pusat perdagangan dan perkantoran. Bangunan-bangunan hancur berantakan akibat guncangan gempa.
4.    Turun atau amblesnya permukaan tanah hingga mengakibatkan permukaan tanah tersebut lebih rendah dari permukaan air laut dan menjadi tergenang oleh air laut. Contoh fenomena ini adalah guncangan gempa bumi di pulau Nias pada tanggal 28 Maret 2005 yang menyebabkan Desa Bozihena turun kurang lebih dari 1 meter.
Selain kerusakan fisik dan banyaknya korban jiwa, pengaruh khusus lainnya yang merugikan sebagai akibat dari gempa bumi, antara lain :
1.    Menimbulkan dampak terhadap kesehatan umum : luka karena retak tulang merupakan masalah yang menyebar secara luas. Rusaknya kondisi-kondisi sanitas yang mengakibatkan terjadinya wabah penyakit.
2.    Tidak tersedianya cadangan air : kemungkinan terjadinya masalah serius yang disebabkan karena rusaknya sistem-sistem air, pencemaran air sumber mata air yang terbuka, dan perubahan skema air.
MITIGASI GEMPA BUMI
Mitigasi adalah istilah gabungan yang digunakan untuk semua tindakan yang dilakukan sebelum munculnya suatu bencana (tindakan-tindakan pra-bencana) yang meliputi kesiapan, dan tindakan-tindakan pengurangan resiko. Mitigasi dalam bencana gempa bumi dapat dibagi menjadi 2 yaitu mitigasi struktural dan non struktural.
A.   Mitigasi Struktural
1.    Harus di bangun dengan konstruksi tanah getaran atau gempa khususnya di daerah rawan gempa bumi.
2.    Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar atau kualitas bangunan.
3.    Pembangunan fasilitas umum dengan kewalitas tinggi
4.    Perkuatan bangunan vital yang telah ada
5.    Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan pegunungan lahan 
6.    Rencan penampatan pemukiman unrtuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi
7.    Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara – cara penyelamatkan diri jika terjadi gempa bumi
8.    Ikut serta dalam perlatihan program, upaya penyalamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, perlatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama.
9.    Persiapan alat pemadam kebakaran, dan peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
10. Rencan kontijusi / sedaruratan untuk melatih anggota pelage dalam menghadapi gempa bumi
11. Membentuk kelompok aksi penyelamatan bencana dengan perlatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama
12. Persiapan alat kebakaran, peralatan penggalian dan alat perlindungan masyarakat lainnya
Adapun secara rinci mitigasi bencana gempa tersebut antara lain:
1.    Mitigasi sebelum gempa terjadi sebaiknya merencanakan kesiap siagaan terhadap bencana tidak hanya mencakup perencanaan fisik bangunan belaka. Setiap orang dalam rumah sebaiknya tahu apa yang harus dilakukan dan kemana harus pergi bila situasi darurat terjadi.
a.    Prinsip rencana siaga untuk rumah tangga
·         Rencana darurat rumah tangga dibuat sederhana sehingga mudah diingat oleh seluruh anggota keluarga. Bencana adalah situasi yang sangat mencekam sehingga mudah mencetus kebingungan. Rencana darurat yang baik hanya berisi beberapa rincian saja yang mudah dilaksanakan. 
·         Tentukan jalan melarikan diri, Pastikan Anda dan keluarga tahu jalan yang paling aman untuk keluar dari rumah saat gempa. Jika Anda berencana meninggalkan daerah atau desa, rencanakan beberapa jalan dengan memperhitungkan kemungkinan beberapa jalan yang putus atau tertutup akibat gempa.
·         Tentukan tempat bertemu, Dalam keadaan anggota keluarga terpencar,misalnya ibu di rumah, ayah di tempat kerja, sementara anak-anak di sekolah saat gempa terjadi, tentukan tempat bertemu. Yang pertama semestinya lokasi yang aman dan dekat rumah. Tempat ini biasanya menjadi tempat anggota keluarga bertemu pada keadaan darurat. Tempat kedua dapat berupa bangunan atau taman di luar desa, digunakan dalam keadaan anggota keluarga tidak bisa kembali ke rumah. Setiap orang mestinya tahu tempat tersebut.
b.    Prinsip rencana siaga untuk sekolah sama dengan prinsip rencana siaga di rumah tangga. Gedung sekolah perlu diperiksa ketahanannya terhadap gempa bumi. Sebaiknya sekolah dibangun berdasarkan standar bangunan tahan gempa. Anak-anak sekolah perlu sering dilatih untuk melakukan tindakan penyelamatan diri bila terjadi gempa.
c.    Menyiapkan rumah tahan gempa
·         Minta bantuan ahli bangunan. Tanyakan tentang perbaikan dan penguatan rumah seperti serambi, pintu kaca geser, garasi, dan pintu garasi. Setidaknya ada bagian rumah yang tahan gempa sebagai titik atau ruang berlindung 
·         Periksa apakah fondasi rumah Anda kokoh
·         Jika mempunyai saluran air panas dan gas, pastikan tertanam dengan kuat. Gunakan sambungan pipa yang lentur.
·         Letakkan barang yang besar dan berat di bagian bawah rak dan pastikan rak tertempel mati pada tembok
·         Simpan barang pecah-belah di bagian bawah rak atau lemari yang berlaci dan dapat dikunci
·         Gantungkan benda berat seperti gambar, lukisan, dan cermin jauh dari tempat tidur, sofa atau kursi dimana orang duduk
·         Segera perbaiki kabel-kabel yang rusak dan sambungan gas yang bocor
·         Perbaiki keretakan-keretakan pada atap dan fondasi rumah, dan pastikan hal itu bukan karena kerusakan struktur
·         Pasang pipa air dan gas yang lentur untuk menghindari kebocoran air dan gas
·         Simpan racun serangga atau bahan yang berbahaya dan mudah terbakar di tempat aman, terkunci serta jauh dari jangkauan anak-anak
·         Hiasan gantung dan lampu diikat kuat agar tidak jatuh pada saat gempa.
·         Bila memungkinkan sediakan kasur gulung di dekat tempat-tempat tertentu sebagai alat pengaman kejatuhan barang dari atas
·         Menyediakan helm dekat dengan tempat kerja atau tempak tidur Anda dan gunakan segera ketika terjadi gempa
2.    mitigasi saat terjadi gempa bumi
a.    Bila Anda berada dalam bangunan, cari tempat perlindungan. Hindari jendela dan bagian rumah yang terbuat dari kaca. Gunakan bangku, meja atau perlengakapan rumah tangga yang kuat sebagai perlindungan.
b.    Tetap di sana namun bersiap untuk pindah. Tunggu sampai goncangan berhenti dan aman untuk bergerak.
c.    Menjauhlah dari jendela kaca, perapian, kompor atau peralatan rumah tangga yang mungkin akan jatuh. Tetap di dalam untuk menghindari terkena pecahan kaca atau bagian-bagian bangunan.
d.    Jika malam hari dan Anda di tempat tidur. Cari tempat yang aman yang kuat dan tunggu gempa berhenti. Jika gempa sudah berhenti, periksa anggota keluarga dan carilah tempat yang aman. Ada baiknya kita mempunyai lampu senter dekat tempat tidur. Saat gempa malam hari, alat murah ini sangat berguna untuk menerangi jalan mencari tempat aman, terutama bila listrik padam akibat gempa. Lilin dan lampu gas sangat berbahaya dan sebaiknya tidak digunakan.
e.    Jika Anda berada di tengah keramaian, cari perlindungan. Tetap tenang dan mintalah yang lain untuk tenang juga. Jika sudah aman, berpindahlah ke tempat yang terbuka, jauh dari pepohonan besar atau bangunan. Waspada akan kemungkinan gempa susulan.
f.     Jika Anda di luar, cari tempat terbuka, jauh dari bangunan, pohon tinggi dan jaringan listrik. Hindari rekahan akibat gempa yang bisa sangat berbahaya.
g.    Jika Anda mengemudi, berhentilah jika aman, tapi tetap dalam mobil. Menjauhlah dari  jembatan, jembatan layang atau terowongan. Pindahkan mobil jauh dari lalu lintas. Jangan berhenti dekat pohon tinggi, lampu lalu lintas atau tiang listrik.
h.    Jika Anda di pegunungan, dekat dengan lereng atau jurang yang rapuh waspadalah dengan batu atau tanah longsor yang runtuh akibat gempa.
i.      Jika Anda di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang tinggi atau berjarak beberapa ratus meter dari pantai. Gempa bumi dapat menyebabkan tsunami selang beberapa menit atau jam setelah gempa dan menyebabkan kerusakan yang hebat.
3.    Mitigasi setelah gempa bumi berlangsung
a.    Saat Anda dan keluarga terlepas dari ancaman akibat gempa awal sebaiknya periksa adanya luka. Setelah menolong diri, bantu menolong mereka yang terluka atau terjebak. Hubungi petugas yang menangani bencana, kemudian berikan pertolongan pertama jika memungkinkan. Jangan coba memindahkan mereka yang luka serius karena justru bisa memperparah luka.
b.    Periksa keamanan.
c.    Periksa hal-hal berikut setelah gempa
·         Api atau ancaman kebakaran. 
·         Kebocoran gas – tutup saluran gas jika diduga bocor dari adanya bau dan jangan dibuka sebelum diperbaiki oleh ahlinya.
·         Kerusakan saluran listrik – matikan meteran listrik.
·         Kerusakan kabel listrik – menjauhlah dari kabel listrik sekalipun meteran telah dimatikan.
·         Barang-barang yang jatuh di dalam lemari (saat Anda membukanya).
·         Periksa pesawat telepon – pastikan telepon pada tempatnya
d.    Lindungi diri Anda dari ancaman tidak langsung dengan memakai celana panjang, baju lengan panjang, sepatu yang kuat, dan jika mungkin juga sarung tangan. Ini akan melindungi Anda dari luka akibat barang-barang yang pecah.
e.    Bantu tetangga yang memerlukan bantuan. Orang tua, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan orang cacat mungkin perlu bantuan tambahan. Mereka yang jumlah anggota keluarganya besar juga memerlukan bantuan tambahan pada keadaan darurat.
f.     Pembersihan. Singkirkan barang-barang yang mungkin berbahaya, termasuk pecahan gelas, kaca, dan obat-obatan yang tumpah.
g.    Waspada dengan gempa susulan. Sebagian besar gempa susulan lebih lemah dari gempa utama. Namun, beberapa dapat cukup kuat untuk merobohkan bangunan yang sudah goyah akibat gempa pertama. Tetaplah berada jauh dari bangunan. Kembali ke rumah hanya bila pihak berwenang sudah mengumumkan keadaan aman.
·         Gunakan lampu senter. Jangan gunakan korek api, lilin, kompor gas atau obor. 
·         Gunakan telepon rumah hanya dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa.
·         Nyalakan radio untuk informasi, laporan kerusakan atau keperluan relawan di daerah Anda.
·         Kondisikan jalan bebas rintangan untuk mobil darurat
B.   Mitigasi Non Struktural
Mitigasi nonstruktural dapat dilakukan dengan memperkenalkan atau menerapkan asuransi bencana di daerah yang rawan sehingga masyarakat tidak harus menunggu bantuan pemerintah atau donatur saat harus melakukan pemulihan pascabencana dan masyarakat dapat kembali melakukan berbagai aktivitas sosial dan ekonomi lebih segera.
Melihat pentingnya upaya mitigasi bencana alam tersebut, tampaknya harus segera dilakukan oleh semua pihak yang diprakarsai oleh departemen sosial. Mitigasi gempa tersebut harus dilakukan secara terpadu, terus-menerus, dan dilakukan semua pihak, sehingga kerugian cacat fisik, jiwa dan harta benda,dapat diminimalkan. Berbagai kejadian mengenaskan yang terjadi dalam bencana gempa tersebut adalah merupakan pengalaman berharga. Seringkali penyesalan itu terulang lagi hanya karena tidak ada inisiatif untuk memulai mitigasi bencana yang sangat penting ini.
.            Penanggulangan Sesudah Terjadi Bencana Gempa Bumi
Dalam tahapan penanggulangan bencana, pemulihan merupakan salah satu komponen penting setelah terjadinya bencana. Sesudah bencana terjadi, biasanya korban perlu ditangani dengan cepat.
Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan pada tahap pemulihan bencana gempa, adalah sebagai berikut :
1)    Melakukan evakuasi dan mendirikan tenda-tenta pengungsian bagi korban
2)    Melakukan penyelamatan
3)    Menyediakan bantuan medis
4)    Menyediakan MCK, air minum dan makanan
5)    Menyediakan pendidikan darurat
6)    Melakukan upaya pemulihan psikologis para korban
7)    Memperbaiki dan membanun kembali gedung, sarana dan failitas lainnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar