Follow Us @literasi_smkn23jkt

Sabtu, 31 Januari 2015

Hikikomori

Oleh: Derya Monita

       Hikikomori (引きこもり, ひきこもり, atau 引き籠もり), arti harfiah: menarik diri, mengurung diri) adalah istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini.

Definisi Hikikomori

        Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, definisi hikikomori adalah orang yang menolak untuk keluar dari rumah, dan mengisolasi diri mereka dari masyarakat dengan terus menerus berada di dalam rumah untuk satu periode yang melebihi enam bulan.
    Menurut psikiater Tamaki Saitō, hikikomori adalah "Sebuah keadaan yang menjadi masalah pada usia 20-an akhir, berupa mengurung diri sendiri di dalam rumah sendiri dan tidak ikut serta di dalam masyarakat selama enam bulan atau lebih, tetapi perilaku tersebut tampaknya tidak berasal dari masalah psikologis lainnya sebagai sumber utama."
       Pada penelitian lebih mutakhir, enam kriteria spesifik diperlukan untuk "mendiagnosis" hikikomori:
(1) Menghabiskan sebagian besar waktu dalam satu hari dan hampir setiap hari tanpa meninggalkan rumah
(2) Secara jelas dan keras hati menghindar dari situasi sosial
(3) Simtom-simtom yang mengganggu rutinitas normal orang tersebut, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau kegiatan sosial, atau hubungan antarpribadi
(4) Merasa penarikan dirinya itu sebagai sintonik ego 
(5) Durasi sedikitnya enam bulan
(6) Tidak ada ganguan mental lain yang menyebabkan putus sosial dan penghindaran.
       Meski tingkatan fenomena ini bervariasi, bergantung kepada individunya, sejumlah orang bertahan mengisolasi diri selama bertahun-tahun atau bahkan selama berpuluh-puluh tahun. Hikikomori sering bermula dari
enggan sekolah (istilah Jepang futōkō (不登校) atau istilah sebelumnya: tōkōkyohi (登校拒否).

Sebab-Akibat dari Hikikomori

       Sebab dan akibat dari kasus Hikikomori berkaitan dengan beberapa hal, sebagai berikut:

• Pada Individu
Miskinnya kontak sosial dan rasa kesepian yang terlalu panjang memberikan efek pada mental para hikikomori, yang secara bertahap kehilangan keterampilan sosialnya, referensi sosial dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk berinteraksi dengan dunia luar. Akibat kurangnya stimulus interpersonal, seorang hikikomori mengalami perkembangan yang stagnan dan terus-menerus melakukan hal yang sama dalam waktu yang lama
.
• Pada keluarga
Memiliki anggota keluarga yang mengalami hikikomori seringkali menimbulkan rasa malu bagi keluarga tersebut. Sebagian besar orangtua hanya menunggu dan berharap anaknya akan mampu mengatasi permasalahannya dan kembali ke kehidupan sosial dengan keinginannya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, tingginya perhatian media terhadap hikikomori menimbulkan stigma sosial bahwa hikikomori berkaitan dengan penyakit mental. Akibatnya, beberapa keluarga merahasiakan kondisi anaknya dan membiarkan saja anaknya berada dalam kondisi seperti itu.
Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Hikikomori
Terdapat berbagai macam penyebab perilaku Hikikomori, antara lain:

• Kekayaan Keluarga
Keluarga dari kelas menengah biasanya mengijinkan anak-anaknya yang sudah dewasa untuk tinggal di rumah saja. Korban hikikomori bisa dengan leluasa tinggal di rumah, bermain video game, dan menonton televisi. Keluarga dengan pendapatan yang lebih rendah tidak memiliki anak hikikomori karena biasanya mereka mendorong anaknya untuk bekerja di luar rumah.

• Ambiguitas peran Laki-laki
Remaja laki-laki merasa tidak yakin dengan masa depannya dan tidak mempunyai model dalam perannya sebagai laki-laki.

• Ijime (bullying)
Kekerasan oleh teman-teman sekolah. Seperti pepatah jepang, paku yang menonjol akan dipalu untuk menjadi seragam, seorang hikikomori yang biasanya memiliki kelebihan dibandingkan dengan teman-temannya, akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman-temannya.

• Tokokyohi
Penolakan bersekolah. Hal ini diindikasikan dengan absen dari sekolah selama 50 hari atau lebih.

• Tekanan Akademik di Sekolah
Sistem pendidikan di Jepang, seperti halnya di China, Singapura, dan Taiwan memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi dan ketat. Penetapan ’grade’ yang tinggi dan tidak adanya kesempatan kedua bagi seseorang yang gagal dalam ujian, sangat
berpengaruh terhadap kondisi mental remaja Jepang.

• Visibilitas Media
Sorotan media yang terlalu berlebihan terhadap fenomena hikikomori menyebabkan semakin mengemulasi jumlah korban serius.

• Harapan-Harapan Orangtua
Adanya harapan-harapan yang digantungkan pada remaja kelas menengah agar meraih kesuksesan dalam hidup, adapun yang dimaksud kesuksesan adalah mendapat pendidikan di tempat yang prestisius kemudian setelah lulus mendapatkan karir yang prestisius pula.

• Hubungan Ibu-Anak
”Di Jepang, ibu dan anak memiliki hubungan simbiotik. Seorang ibu akan mengurus anaknya sampai anaknya berusia 30 atau 40 tahun.” (Rees,2002)
• Kamar anak

Di Jepang, bagi orangtua kamar anak merupakan tempat paling keramat. Sangatlah normal jika orangtua tidak bertemu samasekali dengan anaknya dalam satu hari. Komunikasi yang kurang dapat semakin memperparah penarikan diri remaja hikikomori.

Upaya Penanggulangan Hikikomori

       Terdapat berbagai macam opini untuk mengatasi hikikomori, dan seringkali berlawanan antara sudut pandang Barat dan sudut pandang orang Jepang. Orang Jepang biasanya menyarankan untuk menunggu sampai hikikomori tersebut muncul kembali dalam kehidupan sosialnya, sedangkan ahli-ahli dari Barat menyarankan untuk menarik hikikomori kembali ke komunitasnya, bahkan jika perlu dengan paksa.
Pada umumnya, upaya penanggulangan yang diberlakukan terhadap para hikikomori mengikuti dua filosofi, yaitu psikologis dan sosialisasi.

1. Metode Psikologis
Metode psikologis menekankan pada pendampingan untuk membantu penderita hikikomori menghadapi penyakit mereka. Beberapa menekankan untuk membawa penderita dari rumah mereka dan menempatkan mereka ke dalam sebuah lingkungan rumah sakit, sedangkan sebagian lagi lebih mendukung cara-cara yang bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan penderita dari rumahnya, misalnya konseling online.
2. Metode Sosialisasi
Metode sosialisasi dilakukan dengan jalan menjauhkan penderita dari lingkungan rumahnya dan memasukkannya ke dalam sebuah lingkungan baru di mana di dalamnya terdapat penderita hikikomori lainnya yang sudah sembuh, pendekatan ini menunjukkan kepada para hikikomori bahwa mereka tidak sendirian dalam kondisi tersebut.

Jumlah Hikikomori di Jepang

       Menurut penelitian yang dilakukan NHK untuk acara Fukushi Network, penduduk hikikomori di Jepang pada tahun 2005 mencapai lebih dari 1,6 juta orang. Bila penduduk semi-hikikomori (orang jarang keluar rumah) ikut dihitung, maka semuanya berjumlah lebih dari 3 juta orang.Total perhitungan NHK hampir sama dengan perkiraan Zenkoku Hikikomori KHJ Oya no Kai sebanyak 1.636.000 orang.
Menurut survei Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan, 1,2% penduduk Jepang pernah mengalami hikikomori; 2,4% di antara penduduk berusia 20 tahunan pernah sekali mengalami hikikomori (1 di antara 40). Dibandingkan perempuan, laki-laki hikikomori jumlahnya empat kali lipat. Satu di antara 20 anggota keluarga yang orang tuanya berpendidikan perguruan tinggi pernah mengalami hikikomori. Tidak ada hubungannya antara keluarga berkecukupan atau tidak berkecukupan secara ekonomi:
  1. Jumlah laki-laki hikikomori lebih banyak daripada perempuan
  2. Kebanyakan berasal dari golongan berusia 20-29 tahun (ada pula kasus dari orang berusia 40 tahunan)
  3. Kebanyakan berasal dari orang tua yang berperguruan tinggi

Contoh Beberapa Kasus Hikimori di Jepang dan Luar Jepang

       Contoh kasus-kasus mengenai Hikikomori yang pernah ada di Jepang dan Luar Jepang, antara lain:
  Ø  .Bagi Hide seorang remaja Jepang penderita Hikikomori, masalah muncul saat ia tak sanggup lagi ke sekolah.  “Aku mulai menyalahkan diri sendiri. Orangtuaku juga menyalahkanku karena tak pergi ke sekolah. Kian lama tekanan terasa makin besar,” kata dia. “Lalu, aku mulai takut keluar rumah dan takut bertemu orang lain. Hingga akhirnya aku tak mampu beranjak dari rumah. Secara bertahap, Hide memutuskan komunikasi dengan orang lain, pertama dengan teman-temannya, lalu orang tuanya. Sehari-hari, ia hanya tidur, dan bila terjaga, ia pasti sedang menonton televisi. “Aku memiliki semua emosi negatif,” kata pria itu. “Keinginan untuk keluar rumah, kemarahan pada masyarakat dan orangtua, sedih karena berada dalam kondisi ini, takut akan apa yang akan terjadi di masa depan, dan iri dengan orang-orang yang menjalani kehidupan normal — semua campur aduk”.
   Ø  Orang tua pun ikut menderita menghadapi kondisi itu. Salah satunya Yoshiko. Putranya secara bertahap menarik diri dari masyarakat saat berusia 22 tahun. Awalnya, ia masih suka berbelanja. Tapi semenjak itu bisa dilakukan online lewat internet, ia tak lagi pernah keluar rumah. Kini, putranya itu berusia 50 tahun. Sudah paro baya. “Kupikir putraku kehilangan daya, bahkan untuk menginginkan sesuatu, untuk melakukan apa yang ia ingin lakukan,” kata perempuan sepuh itu. “Mungkin dulu ia punya sesuatu yang ingin dilakukan, tapi kupikir, aku yang telah menghancurkannya.”
   Ø  Dan ternyata, fenomena hikikomori ini tak hanya terjadi di Jepang. Sejumlah menceritakan pengalamannya, menarik diri dari dunia. “Aku menarik diri dari masyarakat sejak 12 tahun lalu. Hingga kini belum pulih, aku masih menghabiskan waktuku sendiri. Aku tak bekerja, tidak ke luar rumah, dan bertahan hidup dari jaminan sosial,” kata Nicholas dari Massachusetts, AS. Dia mengatakan, masalah utama yang dihadapi orang-orang sepertinya adalah ketakutan luar biasa menghadapi kegagalan — meski itu belum terjadi.
   Ø  Sementara, Darren, asal London mengaku tak punya harga diri, kepercayaan diri, dan tak punya teman. Masalah yang menderanya sejak sekolah dasar. Meski tetap bekerja demi bertahan hidup, Daren menghabiskan waktu luangnya di kamar. Memendam iri pada orang lain, yang menurutnya, menjalani hidup dengan mudah. Di usia 43 tahun ini ia masih tinggal bersama orangtuanya. “Jika mereka memaksaku pindah, satu-satunya cara adalah menempatkan jasadku di kantung mayat.” Bahkan seseorang pensiunan dosen astrofisika pun merasakan hal yang sama. Inisialnya P, asal California. Ia mengaku tak bisa bergaul dan tak punya teman. Di masa mudanya, ia melarikan diri dengan belajar sains dan matematika. Dan kini, “Aku merasa, dalam jangka panjang, aku akan hidup dan mati di jalanan,” kata dia.
    Ø  Sementara, Watila, dari Tamil Nadu, India mengaku, penarikan diri awalnya menjadi jalan keluar baginya, tapi membuat tubuhnya susut hingga 9 kilo. Ia tahu benar, jika diteruskan, pasti dia segera mati. Watila pun mulai membaca buku-buku yang membuatnya tertawa, main Facebook, game, dan mulai membuka diri dan mengakui kondisinya pada sejumlah teman. Bantuan dan doa pun berdatangan. “Namun, langkah pertama, yang terpenting bagiku saat itu, adalah bertekad dan mengatakan, ‘aku ingin keluar dari kegelapan ini’,” kata dia.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar